The Small and Casual Chat

Uber Logo   UBER

 

Thursday Evening, 11th August 2016

Sore ini aku memutuskan untuk mencoba fitur layanan baru dari Uber yaitu Schedule Ride. Fitur ini memberikan kemudahan kepada kita untuk menjadwalkan Uber trip pada waktu yang sudah ditentukan. Dengan kata lain, bukan seperti fitur yang biasanya dimana kita request Uber pada waktu tertentu dan segera melakukan perjalanan ketika si pengemudi menjemput kita. Segera aku memilih fitur Schedule Ride kemudian mengisi tanggal dan jam penjemputan yang aku inginkan. Sudah jelas tanggal yang aku pilih adalah hari ini dan jam yang aku pilih adalah satu jam dari sekarang.

Setelah aku selesai melakukan Schedule Ride, aku kembali menghadap layar komputer dan menyelesaikan pekerjaanku. Tenggelam dalam hal yang sedang kukerjakan, membuat aku sendiri lupa sudah melakukan Schedule Ride untuk satu jam mendatang. Tiba-tiba ponselku berbunyi dan muncul nomor yang tidak dikenal di layar ponselku. Sambil bertanya dalam hati perihal siapa penelepon tersebut, aku geser layar ke kanan untuk menjawab panggilan dari nomor tak dikenal itu. Dan kalimat yang aku dengar setelah jawaban “Halo” dari penelepon itu adalah “Ini lokasi gedungnya ada di sebelah mana ya bu?” Barulah aku tersadar kalau satu jam yang lalu aku melakukan Schedule Ride. Dan sudah bisa dipastikan yang menelepon barusan adalah si pengemudi Uber yang hendak menjemputku di kantor.

Dari situ pulalah aku mulai paham cara kerja fitur Schedule Ride tersebut. Sekalinya kita sudah memilih Schedule Ride, maka pada waktu yang sudah ditentukan, aplikasi Uber itu akan dengan sendirinya melakukan request Uber secara otomatis. Fitur ini memang bertujuan untuk membantu pengguna untuk lebih mudah menjadwalkan perjalanannya.

Aku bahkan sempat lupa kalau aku sudah menjadwalkan trip sampai tiba-tiba si pengemudi tersebut menghubungiku. Dan aku lihat di layar ponselku pun muncul notifikasi “Your Uber is 5 minutes away.” Segera aku buka aplikasi Uberku dengan tujuan ingin melihat si pengemudi sudah sampai dimana posisinya. Saat itu aku juga melihat rating pengemudi tersebut. Sayangnya rating nya masih terbilang rendah tetapi tidak buruk juga. Kalaupun aku hendak membatalkan pengemudi ini rasanya aku tak enak hati karena dia sudah berjalan menuju kantorku dan sebentar lagi akan tiba.

Sambil berharap semoga si pengemudi tidak mengecewakan, aku segera menutup file yang sedang aku kerjakan dan mematikan komputerku. Kemudian aku bergegas menuju lift untuk turun area lobby. Hanya berselang lima menit, pengemudi tersebut tiba dan menjemputku dengan menggunakan Xenia berwarna silver. Pak Cahyono nama pengemudi Uber sore ini.

Tidak berapa lama setelah memulai perjalanan, Pak Cahyono memulai percakapan denganku. Beliau membuka pembicaraan dengan bertanya mengenai pekerjaanku, dimana aku tinggal dan darimana daerah asalku. Aku menjawab semua hal-hal yang ditanyakan beliau dengan santai. Dan rasanya sore ini aku tidak ingin banyak bertanya kepada si pengemudi. Tetapi aku membiarkan si pengemudi yang bertanya banyak hal kepadaku, menggali cerita dariku dan membiarkan ceritaku mengalir begitu saja.

Cukup lama kami mengobrol dan Pak Cahyono tidak hentinya bertanya. Aku sama sekali tidak merasa bosan atau terganggu karenanya. Tadinya aku sedang membuka ponselku dan hendak membaca sebuah artikel namun aku urungkan niat tersebut setelah Pak Cahyono mulai mengajakku untuk mengobrol. Aku segera memasukkan ponselku kedalam tas dan bercerita banyak hal kepada beliau.

Pak Cahyono sempat bertanya mengenai usiaku. Aku menjawab dengan jujur dan hal itu  membuat beliau terkejut karena beliau pikir usiaku delapan tahun lebih mudah dari usiaku yang sebenarnya. Menurut beliau fisikku tidak menunjukkan seperti orang seusiaku. Aku hanya tertawa saja menanggapinya dan aku berkata pada beliau bahwa kebanyakan orang memang seringkali salah menerka usiaku. Bahkan hal itu sudah sering terjadi dari aku berusia remaja. Ketika aku duduk di bangku sekolah menengah, banyak yang mengira aku masih di sekolah dasar. Dan begitu seterusnya. Kebanyakan orang selalu menerka usiaku lima atau tujuh tahun lebih muda daripada usiaku yang sesungguhnya. Aku juga bisa berkesimpulan sepertinya ini keturunan dari Ibuku dan almarhum nenekku. Orang pun seringkali salah menerka usia mereka. Pak Cahyono kemudian berkelakar mungkin aku bisa terlihat lebih muda dari usiaku karena sering tertawa. “Biasanya orang kalau banyak ketawa jadi kelihatan awet muda.” Aku hanya tertawa saja mendengar gurauan beliau.

Percakapan pun terus berlanjut dan kali ini Pak Cahyono menanyakan perihal daerah tempat asalku. Setelah aku memberikan jawaban, lagi-lagi beliau terkejut karena tebakan beliau meleset. Aku hanya menjawab santai bahwa hal itu sudah biasa bagiku. Jarang ada orang yang menebak dengan benar darimana aku berasal. Malah setiap kali ada yang bertanya “asalnya darimana” atau “orang mana”, seringkali kujawab dengan gurauan, “Orang Indonesia.” Iya benar, aku memang orang Indonesia, lahir di tanah Indonesia dan darah yang mengalir di tubuhku pun darah Indonesia. Tanpa bermaksud berlebihan atau seringkali disebut “lebay” oleh anak sekarang – betul, aku memang asli orang Indonesia. Dan lebih suka dengan sebutan itu ketimbang harus menjelaskan secara detail dari etnis mana aku berasal.

Kalau dipikir-pikir, aku sering merasa geli sendiri karena orang-orang yang baru pertama kali berkenalan denganku selalu salah menerka usia dan daerah tempat asalku. Bagiku hal itu tidak masalah, justru aku menganggapnya sebagai candaan saja dan aku menganggap itu sebagai cara orang untuk mengenal diriku dan membuka percakapan denganku.

Sejak kecil kedua orang tuaku tidak pernah mengajariku untuk membeda-bedakan orang berdasarkan warna kulit, etnis, agama dan bahasa. Dan secara kebetulan pula sejak sekolah dasar sampai di perguruan tinggi dan lingkungan pekerjaan pertamaku, aku selalu berada dalam lingkungan yang aku sebut sebagai multikultural. Sehingga membuatku sudah terbiasa dengan segala bentuk perbedaan dan bagiku bukanlah hal yang asing. Satu hal penting yang aku pelajari dari lingkungan yang multikultural tersebut adalah bahwa semakin berragam suatu lingkungan, maka perbedaan akan semakin tidak terasa dan semakin tinggi rasa toleransi antara satu sama lainnya.

 

“The more diverse the culture or environment, the less difference is perceived, which eventually led to the higher the tolerance between one and another.”

diversity1 diversity5

 

Oleh sebab itu, aku lebih suka dikelilingi atau berada di lingkungan yang memiliki keberagaman tinggi daripada yang sebaliknya. Jujur saja, aku justru mengalami kesulitan dan sedikit ada rasa tidak nyaman jika berada di lingkungan dengan tingkat keberagaman rendah. Dengan tanpa maksud menyinggung pihak manapun – hal ini semata-mata pendapat pribadiku karena aku sudah terbiasa berada dalam lingkungan yang multikultural. Terlepas dari semua ini, satu hal yang memang sangat aku rindukan sampai saat ini adalah kembali berada atau dikelilingi dengan lingkungan yang sarat keberagaman. Namun pada akhirnya kita tetap harus bisa bertahan dan beradaptasi di lingkungan yang bagaimanapun bukan?

Kebetulan lalu lintas sore ini tidak terlalu padat dan tidak terasa aku sudah hampir tiba di tempat tinggalku. Kekhawatiran semula akan rating rendah Pak Cahyono lama kelamaan menghilang seiring dengan mengalirnya percakapan ringan kami sepanjang perjalanan kearah tempat tinggalku. Aku merasa bahwa beliau termasuk orang yang ramah dan menyenangkan ketika diajak bicara. Sempat aku bertanya dalam hati mengapa rating Pak Cahyono angkanya rendah. Bisa jadi sempat terjadi kesalahpahaman atau kejadian kurang menyenangkan yang beliau sempat alami dengan penumpang-penumpang sebelumnya dimana hal ini memang wajar dan bisa menimpa siapapun sekalipun bagi pengemudi yang sudah memberikan pelayanan sebaik mungkin.

Yang dinamakan bisnis berbasis jasa memang terkadang agak sulit diukur. Karena yang menjadi tolok ukurnya adalah kepuasan pelanggan dan ekspektasi pelanggan sendiri terhadap kategori “puas” pun bisa berbeda-beda. Misalnya, ada yang menilai pengemudi yang terus-menerus mengajak mengobrol sebagai kategori ramah, tetapi bisa juga ada penumpang yang tidak nyaman dengan pengemudi yang terus-menerus berceloteh dan menganggapnya sebagai kategori “mengganggu”. Bisa jadi kebetulan memang si penumpang yang tidak nyaman mengobrol dengan orang asing atau orang yang baru saja dikenalnya.

Namun demikian, meskipun sulit diukur, bukan berarti mustahil untuk mengukur kepuasan pelanggan. Sudah banyak penelitian dan contoh yang diterapkan untuk mengukur kepuasan pelanggan dan hasilnya cukup akurat. Karena itulah dalam hal ini Uber memberikan pilihan bagi para penumpang dan pengemudi untuk saling memberikan penilaian dengan rating bintang 1 – 5. Dan lebih jauh lagi, di fitur penilaian untuk pengemudi ada kategori-kategori lain yang lebih spesifik dimana hal tersebut tidak lain bertujuan untuk mengukur kepuasan pelanggan yang lebih mendetail.

Semoga saja di kemudian hari rating Pak Cahyono bertambah bagus seiring dengan semakin banyaknya penumpang yang beliau peroleh. Dengan rating yang tinggi tersebut sudah jelas akan lebih mempermudah Pak Cahyono untuk mendapatkan penumpang dan memperoleh kepercayaan lebih.