The Sailor of The Cruise

Uber Logo      UBER

 

Friday Evening, 29th July 2016

Hari Jum’at kali ini aku memutuskan untuk tidak hang out kemana-mana meskipun hari ini adalah payday. Ada beberapa pekerjaan kantor yang masih harus segera aku selesaikan. Saking asiknya aku berkutat di depan layar komputer, aku tidak sadar bahwa semua orang di kantor sudah pulang dan tinggallah aku sendirian.

Aku termasuk orang yang workaholic dan tidak bisa berhenti mengerjakan sesuatu sampai benar-benar selesai. Kali ini aku memutuskan berhenti mengerjakan apa yang sedang kukerjakan sekitar pukul 22:30 karena tiba-tiba aku merasa sedikit sakit kepala yang mana itu tandanya aku sudah mulai kelelahan. Aku merapihkan mejaku, menyimpan beberapa file yang sudah aku kerjakan dan mematikan komputer.

Aku mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi Uberku. Aku cukup terkejut karena tarifnya kena surcharge 1.2X. Padahal sudah cukup larut dan kulihat jalanan diluar sudah tidak padat. Aku berpikir apakah karena ini hari Jum’at dan permintaan Uber sedang tinggi sehingga tarifnya juga melonjak. Surcharge sebesar 1.2X dari tarif normal sebenarnya tidak seberapa tinggi, namun masih lebih baik lagi kalau aku bisa mendapat tarif normal saja. Maka aku memutuskan untuk menunggu sebentar lagi.

Sekitar lima sampai sepuluh menit kemudian aku kembali mengecek tarif Uber dan aku semakin terkejut karena surcharge nya bergerak naik ke angka 1.3X, kemudian 1.4 dan bertahan di angka 1.5 sekitar sepuluh menit. Akhirnya setelah total sekitar dua puluh menit menunggu, aku memutuskan untuk memesan Uber saja biarpun dengan tarif tinggi karena aku sudah merasa sangat mengantuk dan ingin segera sampai di rumah.

Kembali aku buka aplikasi Uber di ponselku dan ternyata kali ini surcharge sudah turun sampai di angka 1.2X. Tanpa pikir panjang dan sebelum tarif kembali melonjak, aku langsung memesan Uber. Tidak berapa lama di layar ponselku muncul profil driver yang akan menjemputku. Bintangnya 4.8, sudah bisa dipastikan itu artinya apa dan aku sangat bersyukur dan berharap semoga aku tidak salah tebak.

Sekitar sepuluh menit kemudian, driver yang akan menjemputku tiba dengan menggunakan mobil Agya berwarna hitam. Pak Arief nama driver Uber kali ini. Beliau menyambutku dengan ramah ketika aku masuk kedalam mobil. Di perjalanan mengantarku, Pak Arief sempat bertanya mengenai pekerjaanku dan dia sendiri mulai bercerita tentang pekerjaannya. Aku yang tadinya sudah bersiap memejamkan mata sambil menyandarkan kepala tiba-tiba duduk tegak dan menyimak cerita Pak Arief dengan semangat. Sakit kepala dan perasaan mengantuk yang sempat hinggap tadi tiba-tiba saja lenyap dan digantikan dengan gelombang kegirangan yang menyelimutiku akan cerita baru ini. Begitu Pak Arief memulai cerita tentang dirinya, aku mulai melontarkan banyak pertanyaan yang dijawab Pak Arief dengan ramah dan tampaknya beliau juga semangat sekali menceritakan pengalamannya.

Pak Arief menyebut dirinya “orang kapal” – pelaut – atau dengan kata lain seseorang yang bekerja di kapal dan lebih spesifiknya lagi beliau bekerja di sebuah kapal pesiar. Saat ini beliau sedang berlibur selama tiga bulan. Kapal pesiar tempat Pak Arief bekerja merupakan sebuah anak perusahaan The Royal Caribbean Cruise yang saat ini berada dalam kepemilikan Jerman – begitu menurut penjelasan beliau.

Sedikit informasi saja bahwa di Uber Story kali ini aku beberapa kali menggunakan istilah “orang kapal”, “di laut”, “di darat” – dengan tujuan karena istilah-istilah tersebut terdengar lebih ringan dan lebih akrab untuk konten cerita ini.

Pada tahun 1996 Pak Arief bekerja untuk kapal pesiar Awani Dream Cruise. Menurut Pak Arief, Awani Dream tempat beliau bekerja pada saat itu adalah milik Yunani yang disewa oleh Jepang. Sebagian besar awak kapalnya adalah orang Jepang dan pada waktu itu mereka berlayar keliling dunia selama tiga bulan menjelajahi negara-negara yang pernah dijajah oleh Jepang. Disinilah awal karier Pak Arief dimulai.

Berlatarbelakang dari travelling school dan ketertarikannya dengan pelayaran, beliau sudah menekuni pekerjaan tersebut dan pengalamannya sudah mencapai dua puluh tahun berlayar mengelilingi lautan sejak tahun 1996 tersebut.

Sempat aku bertanya mengenai adakah keinginannya untuk berganti pekerjaan atau tidak. Pak Arief mengakui bahwa beliau pernah mencoba untuk melamar pekerjaan di hotel karena beliau punya pengalaman di bidang hospitality. Tetapi sejauh dia pernah mencoba, lamaran pekerjaannya tidak pernah diterima di hotel. Pak Arief berkata bahwa pihak hotel memiliki persepsi yang berbeda terhadap para pelaut atau orang-orang yang pekerjaannya berlayar di lautan. Kebanyakan para pelaut tersebut jika sedang tidak berlayar atau pulang ke darat – anggap saja mereka sudah mengundurkan diri dari pekerjaan melautnya – pada umumnya mereka melamar pekerjaan ke hotel. Dan yang membuat pihak hotel seringkali menolak lamaran pekerjaan dari para pelaut tersebut karena yang namanya pelaut – jika di kemudian hari ada tawaran pekerjaan lagi dari kapal – biasanya mereka akan mengundurkan diri dari pekerjaannya di hotel dan kembali melaut. Dari sisi hotel mungkin hal ini agak merepotkan jika tiba-tiba pegawainya ada yang mengundurkan diri meskipun masa kerjanya baru sebentar dan ini mengharuskan pihak hotel mencari penggantinya dengan segera.

Namun tentu saja hal tersebut bukanlah pendapat umum. Hal ini adalah pendapat pribadi yang dilontarkan oleh Pak Arief yang berdasarkan pada pengalamannya saja. Menurutku sendiri mungkin saja banyak pelaut yang mengundurkan diri dari pekerjaannya untuk lebih memilih bekerja di daratan dan tidak pernah melaut kembali.

Selama bekerja di kapal pesiar, Pak Arief bertugas sebagai cabin steward. Cabin steward ini setara dengan housekeeping di hotel. Tugas utamanya adalah membersihkan dan mempersiapkan ruangan kamar untuk para tamu. Pak Arief sendiri bertanggungjawab atas 18 kamar. Beliau harus memastikan kamar-kamar tersebut siap dihuni oleh para penumpang saat embarkasi. Biasanya sebelum embarkasi dan ketika kapal sedang bersandar di pelabuhan, para cabin steward mulai membersihkan dan mempersiapkan kamar-kamar tersebut.

Aku sempat bertanya-tanya bagimana mungkin Pak Arief bisa mengerjakan 18 kamar itu sendirian dengan waktu yang terbatas. Kemudian Pak Arief menjelaskan kalau beliau seringkali meminta bantuan para cleaner untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tidak jarang juga Pak Arief memberikan uang jasa kepada para cleaner tersebut. Cleaner ini adalah pegawai yang tugas utamanya hanya bersih-bersih saja dan bukan bagian dari housekeeper.

Pak Arief mengakui bahwa pekerjaan sebagai cabin steward, room boy dan waiter biasanya memiliki pendapatan yang cukup besar dibandingkan dengan para cleaner. Hal tersebut dikarenakan cabin steward, room boy dan waiter sering berinteraksi langsung dengan para tamu dan mereka juga sewaktu-waktu bisa memperoleh tip.

Melaut, berlayar dan berpesiar di atas kapal pesiar mewah sekelas Royal Caribbean Cruise memang terdengar sangat menyenangkan. Terlepas dari pekerjaan sebagai cabin steward yang mungkin melelahkan – hal tersebut cukup terbayar dengan perjalanan mengelilingi lautan dari waktu ke waktu. Jujur saja aku sendiri belum pernah melakukan perjalanan semewah itu menggunakan kapal pesiar. Karena rasa keingintahuan, aku bertanya cukup banyak hal mengenai kapal pesiar. Aku penasaran seberapa besar ukuran sebenarnya dan seperti apa bagian dalamnya. Pak Arief menjelaskan bahwa itu sama saja seperti hotel berjalan di tengah lautan. Satu kapal pesiar bisa terdiri dari sepuluh sampai duapuluh lantai. Pak Arief juga berkelakar, “Wah, itu kalau di tengah lautan kita berpapasan dengan kapal pesiar lain, silau sekali rasanya bu. Karena pantulan cahaya dari kaca-kacanya.” Sekarang aku bisa membayangkan seperti apa “hotel berjalan” yang dimaksud oleh Pak Arief tadi ditambah lagi dengan efek silau karena pantulan tersebut. Aku seperti membayangkan piramid berkilauan yang berlayar di tengah lautan.

Berbagai hal menarik selama bekerja di kapal pesiar pernah dialami oleh Pak Arief termasuk pengalaman dideportasi ketika beliau sedang berada di Amerika Serikat. Kejadian itu dialaminya pada tahun 2008. Saat itu Pak Arief sedang menempuh perjalanan dari Florida menuju Atlanta dan tiba-tiba saja ada razia di perbatasan Alabama. Ketika dirazia, Pak Arief hanya bisa menunjukkan visa pelautnya saja dan memang hanya itu satu-satunya visa yang dimilikinya karena memang pekerjaan beliau adalah seorang pelaut.

Akhirnya Pak Arief terpaksa harus menginap semalam di sel di imgirasi Alabama. Namun beliau menegaskan karena itu bukan perkara kriminal, pihak imigrasi juga tidak memperlakukan Pak Arief seperti seorang kriminal. Pak Arief menceritakan bahwa disana terdapat 11 sel dan kebetulan pada saat itu hanya beliau sendirian yang sedang ditahan disana.

Beliau menuturkan bahwa beliau sempat diinterogasi oleh FBI dari jam lima sore sampai jam sebelas malam. Aku tidak bertanya lebih detail apa saja tepatnya yang ditanyakan oleh pihak yang menginterogasi beliau. Sesudahnya Pak Arief menginap di sel sembari menunggu security guard dari Miami untuk menjemputnya. Pada waktu itu Pak Arief bekerja untuk Celebrity Cruise yang masih merupakan anak perusahaan dari Royal Caribbean Cruise dan berbasis di Miami. Kebetulan saja identitas Celebrity Cruise yang dimiliki Pak Arief masih berlaku karena memang beliau masih bekerja untuk Celebrity Cruise sehingga pihak Royal Caribbean lah yang bertanggungjawab untuk memulangkan Pak Arief ke Indonesia.

Akibat deportasi tersebut, Pak Arief harus menunggu sampai sepuluh tahun lagi jika beliau hendak berkunjung ke negara Amerika Serikat. Beliau dideportasi pada tahun 2008 dan baru diizinkan kembali untuk masuk ke negara tersebut pada tahun 2018 mendatang.

Perihal menjadi driver Uber yang belum lama ini dijalani disebabkan karena Pak Arief tertarik melihat seorang kawannya yang sama-sama bekerja di kapal pesiar tidak kembali melaut lagi setelah masa liburnya berakhir. Ternyata sang kawan tersebut memutuskan menjadi driver Uber dan memperoleh penghasilan yang lumayan. Hal inilah yang mendorong Pak Arief mencoba menjadi driver Uber pada masa liburannya kali ini. Beliau menuturkan, “Daripada bengong di rumah, tidak menghasilkan uang. Lebih baik saya coba jadi driver Uber selama liburan ini.”

Disamping itu Pak Arief juga berujar bahwa saat ini beliau sudah bercerai dari istrinya. Hak pengasuhan anak pun diberikan kepada istrinya karena anaknya masih berusia dibawah 12 tahun. Beliau berkata bahwa hak pengasuhan anak usia dibawah 12 tahun diberikan kepada sang ibu. Terus terang saja aku tidak terlalu paham mengenai hal ini. Namun begitu sekiranya penjelasan dari Pak Arief.

Pak Arief menambahkan bahwa sewaktu dia masih menikah dulu dan ketika dia pergi melaut, uang yang dihasilkan dari melaut dan diberikan ke istrinya seringkali habis begitu saja. Tidak hanya itu, resiko sebagai seorang pelaut yang seringkali pergi berlayar dalam waktu berbulan-bulan dan terpaksa meninggalkan sang istri – hal ini membuat sang istri jadi mencari perhatian dari pria lain. Pak Arief sangat menyayangkan hal tersebut. Di saat beliau banting tulang dan mencari nafkah di lautan, uang yang diberikan ke istrinya selalu habis begitu saja dan istrinya pun mulai beralih ke pria lain.

Pak Arief menuturkan bahwa sebenarnya di tahun 2012 beliau sempat merintis usaha rental mobil. Ketika itu beliau memiliki sebuah mobil Avanza yang dibeli dengan sistem kredit. Menurut Pak Arief, sembari berlayar dan mencari nafkah di lautan, beliau juga berharap ada penghasilan tambahan yang bisa dia peroleh dan ada dana yang bisa diputar di darat. Berbekal dari pengalaman pahit sebelumnya, kali ini beliau sangat bersikeras untuk bisa memperoleh penghasilan tambahan di darat supaya uang dari hasil melautnya tidak habis begitu saja.

Baru dua tahun usaha rental mobil tersebut berjalan dan bersamaan dengan rencananya untuk membeli mobil satu lagi dan tepat ketika masa cicilan sudah hampir dia lunasi – sayangnya mobil tersebut dicuri orang pada tahun 2014. Sialnya lagi mobil tersebut cicilan kreditnya masih belum lunas sehingga beliau tidak mendapatkan penggantian dari asuransi. Namun apa mau dikata, Pak Arief menganggap itu sebagai cobaan dan mengikhlaskannya saja.

Kali ini beliau sudah memiliki mobil lagi yang dia pergunakan sebagai Uber. Diakui olehnya bahwa sambil mengisi liburannya, beliau mendaftarkan mobilnya ke Uber dan mulai menjalani sebagai driver Uber. Ini masih terhitung coba-coba dan Pak Arief sedang menikmati pekerjaannya sebagai driver Uber. Beliau ingin melihat bagaimana hasilnya setelah dijalani. Jika dirasanya cocok dan cukup menguntungkan maka akan beliau lanjutkan pekerjaan sebagai driver Uber ini. Namun tentu saja Pak Arief bukan berarti melepaskan pekerjaan utamanya di kapal pesiar. Lalu bagaimana beliau akan menjalani ini?

Sebelum aku sempat bertanya, Pak Arief sudah menjawab rasa penasaranku tersebut. Pak Arief menuturkan bahwa nantinya memang akan mempekerjakan supir untuk mengoperasikan mobil Ubernya ini. Terutama ketika beliau sedang melaut. Namun sebelum Pak Arief mempekerjakan seorang supir, beliau ingin menjalani sendiri dulu dan memahami seluk-beluk sebagai driver Uber. Pak Arief sempat berkilah, “Saya ingin tau dulu bagaimana rasanya menjadi driver Uber. Saya ingin mengalami sendiri sebelum nanti saya rekrut supir. Saya juga harus tau semua aturan dan seluk-beluk menjadi driver Uber supaya tidak dibohongi oleh supir saya nanti.”

Sangat masuk akal memang penjelasan Pak Arief tersebut. Intinya beliau ingin terjun sendiri dulu dan memahami berbagai hal-hal yang berkaitan dengan Uber dengan tujuan nanti supaya dia bisa mengajari supirnya dengan baik sekaligus juga supaya tidak dicurangi.

Tidak hanya sebagai driver Uber saja yang dijalani oleh Pak Arief, tetapi saat ini beliau juga menerima ajakan seorang kawannya untuk bekerjasama di sebuah perusahaan mekanikal elektronik. Perusahaan tersebut adalah perusahaan perorangan yang dirintis oleh kawannya. Pak Arief sendiri mengakui bahwa mekanikal elektronik adalah bidang yang bukan merupakan keahliannya. Terlebih lagi dia adalah seorang cabin steward di kapal pesiar. Namun beliau sangat optimis dan melihatnya dari sisi positif. Menurut beliau, apapun bisa dimulai untuk dipelajari jika kita memiliki kemauan dan keinginan kuat. Pak Arief sendiri menjelaskan bahwa perusahaan tersebut menyediakan jasa maintenance gedung untuk jaringan wi-fi, panel-panel listrik, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan mekanik dan elektronik.

Sambil asik mendengarkan cerita Pak Arief, tidak terasa aku sudah hampir sampai di kediamanku. Aku baru saja ingat di Uber Story yang sebelumnya kuceritakan mengenai seorang doorman bernama Pak Muhammad – sempat terbersit keinginannya untuk mencari kesempatan bekerja di kapal pesiar. Dan malam ini tidak disangka kalau aku benar-benar bertemu dengan seorang driver Uber yang sudah memiliki pengalaman bekerja di kapal pesiar selama kurang lebih duapuluh tahun. Rasanya aku seperti menulis cerita bersambung yang kisahnya diangkat dari dua orang yang berbeda.

Aku mengucapkan banyak terima kasih kepada Pak Arief dan juga mendo’akan beliau sukses dengan pekerjaan dan kehidupan yang dijalaninya saat ini. Tidak hanya itu saja, dalam hati aku berterimakasih sekali kepada Pak Arief karena mau membagi cerita melautnya dan menceritakan dengan detail seperti apa bekerja di kapal pesiar dan bagaimana suasana di kapal pesiar – sampai aku jadi bisa membayangkan seperti apa rasanya berada didalam kapal pesiar.

Sambil menulis cerita inipun sesekali aku browsing di internet. Tidak lain aku langsung mengetik kata kunci royal caribbean cruise di search engine dan muncullah gambar-gambar kapal pesiar mewah yang sedang berlayar di tengah lautan biru luas persis dengan yang digambarkan oleh Pak Arief tadi. Aku terpana sesaat dan sempat terpikir olehku, siapa tau jika memungkinkan suatu saat nanti ingin juga mencoba berpesiar dengan kapal mewah tersebut. Dan seketika aku ingat, dulu aku pernah memiliki seorang kawan berkewarganegaraan Mexico yang pernah bekerja di Royal Caribbean Cruise. Namun dia sudah mengundurkan diri dari sana. Well, malam yang melelahkan ini cukup terbayar dengan Uber Story yang sangat menarik dari seorang Pak Arief. Goodluck Pak Arief! Semoga sukses terus dengan berlayar dan menjelajah lautan di atas kapal pesiar mewah. Dan semoga Ubernya pun terus berjalan menjelajah jalanan di Jakarta, memberikan jasa kepada para penumpang dan menambah pundi-pundi bagi Pak Arief.

cruise2

 

*picture is taken from Pinterest