The Newbie and Misunderstanding

Uber Logo  UBER

 

Monday Evening, 21st November 2016

Pada hari Senin malam ini aku menyempatkan diri untuk meluangkan waktu bersama salah seorang sahabatku, Griselda. Agak sulit bertemu dengannya sekarang karena dia sudah tidak satu kantor denganku. Gris – begitu aku biasa memanggilnya – sempat mengajakku bertemu minggu lalu untuk menonton film di bioskop. Tetapi sayangnya film yang ingin dia tonton justru kurang menarik bagiku, bukan genre film favoritku. Kali ini Gris kembali mengajakku menonton film dan lucunya, film yang kali ini akan kami tonton sebenarnya sudah aku tonton terlebih dahulu bersama adikku di akhir pekan yang lalu. Namun karena aku cukup menyukai film tersebut, jadi aku tidak keberatan kalau harus menonton dua kali.

Fantastic Beasts and Where to Find Them, film yang hendak kami tonton dan yang akan aku tonton untuk kedua kalinya. Film karya J.K. Rowling ini memang sudah banyak ditunggu-tunggu terutama oleh para penggemar Harry Potter. Dan memang karya J.K. Rowling tersebut tidak jauh dari hal-hal yang bercerita tentang dunia sihir. Menurut opini kebanyakan orang, film tersebut mengkisahkan cerita jauh sebelum Harry Potter lahir. Aku sendiri bisa mengambil kesimpulan bahwa imajinasi yang dikembangkan oleh J.K. Rowling cukup “gila” dalam arti yang positif. Mau bagaimana lagi, dia seorang novelis fiksi dan tidak heran jika dia bisa bebas mengembangkan karakter-karakter yang imajinatif. Tidak hanya itu, karakter dalam sekuel Harry Potter sendiri sangat banyak sekali. Di samping alur ceritanya yang detail dan novelnya yang super tebal, Harry Potter termasuk kategori cerita ringan yang cukup menghibur. Aku sendiri bukan penggemar berat Harry Potter, namun aku masih bisa mengikuti jalan ceritanya dan menikmati menonton filmnya. Menurutku, J.K. Rowling sendiri bisa saja bebas mengangkat cerita dari tokoh manapun dalam karakter Harry Potter untuk dibuatkan film atau sekuelnya di layar lebar.

Singkat cerita, Gris menawarkan untuk bertemu dan menonton di Lotte Shopping Avenue yang terletak di area Kuningan. Kebetulan jarak dari kantornya ke Lotte Mall tidak jauh dan bisa ditempuh dengan hanya 10 menit berjalan kaki. Karena dia sudah sampai duluan, maka dia menawarkan untuk membelikan tiken menonton terlebih dahulu. Aku tiba di Lotte Mall sekitar pukul 19.00 Aku pikir kami masih sempat menonton dengan jadwal jam 19.00, namun sahabatku tersebut berkata bahwa jadwal jam 19.00 kebetulan sudah penuh sehingga dia membeli tiket dengan jadwal jam 20.15.

Karena kami masih punya waktu sekitar satu jam, maka kami mampir dulu ke sebuah kafe di area mall tersebut. Cukup banyak cerita yang kami bagi dalam waktu satu jam itu dan tidak terasa waktu sudah hampir menunjukkan pukul 20.15, yang artinya kami harus bergegas ke area bioskop.

Film tersebut berdurasi sekitar dua jam lebih. Kami selesai menonton sekitar pukul 22.30. Sehabis menonton, kami berjalan menuju area lobby Lotte Mall untuk menunggu taksi yang akan mengantar kami pulang.

Kebetulan mobil Uber yang aku pesan datang terlebih dahulu sehingga aku berpamitan pada Gris untuk pulang. Kami tidak pulang kearah yang sama. Gris tinggal di kawasan Jakarta Barat sementara aku di Jakarta Utara.

Pak Kusyanto, pengemudi Uber kali ini yang akan mengantarku pulang. Beliau menyapaku dengan ramah ketika aku memasuki mobil dan duduk di kursi penumpang. Dalam perjalanan mengantarku pulang, beliau bercerita cukup banyak dan hal yang menjadi topik utama ketika itu adalah profesinya sebagai supir taksi komersil sebelum beliau bergabung dengan Uber.

Beliau sendiri mengakui bahwa baru bergabung dengan Uber sekitar satu bulan. Dan aku langsung bisa menyimpulkan kalau Pak Kusyanto masih terbilang sangat baru sebagai pengemudi Uber. Hal ini semakin diperkuat dengan pengalaman buruknya dengan salah satu penumpang yang belum lama dialami oleh beliau. Dari pengalaman buruknya tersebut menyiratkan bahwa masih banyak hal yang harus beliau pelajari dalam pekerjaan sebagai pengemudi Uber ini.

Beliau bercerita bahwa beliau pernah mendapatkan seorang penumpang yang cukup tidak menyenangkan perangainya. Aku sempat berujar, “Memangnya bapak tidak cek dulu penumpang itu ratingnya bintang berapa?” Kemudian Pak Kusyanto menjawab, “Rating penumpang kan tidak bisa dilihat. Tadi saja saya tidak bisa melihat rating ibu.” Aku memaklumi jawaban beliau karena mungkin saja beliau memang belum begitu paham disebabkan beliau masih baru sekali menjadi pengemudi Uber. Namun aku juga menjelaskan kepada beliau bahwa rating penumpang itu bisa dilihat di aplikasi Uber si pengemudi. Yang tidak bisa dilihat oleh pengemudi adalah rating pengemudi itu sendiri. Begitu pula sebaliknya dengan penumpang. Aku tidak bisa melihat berapa ratingku sendiri tetapi aku selalu bisa melihat rating dari masing-masing pengemudi ketika aku memesan Uber.

Kemudian Pak Kusyanto meneruskan ceritanya perihal pengalaman buruk dengan salah seorang penumpang tersebut. Inti cerita tersebut adalah ketika si penumpang sudah tiba di tujuan dan melakukan pembayaran. Anehnya, menurut beliau tagihan yang tertera di layar aplikasi Ubernya dengan yang tertera di layar aplikasi Uber si penumpang menunjukkan angka yang berbeda. Terlebih lagi angka yang tertera di ponsel si penumpang angkanya jauh lebih rendah. Kontan saja penumpang tersebut sangat marah ketika mengetahui hal itu.

Kebetulan si penumpang tersebut memilih metode pembayaran tunai. Sehingga, sesaat setelah Pak Kusyanto melakukan end-trip, maka jumlah tagihan dapat dilihat di ponsel Pak Kusyanto dan penumpang tersebut. Kesimpulanku, sepertinya si penumpang saat itu hanya melihat tagihan yang tertera di ponsel Pak Kusyanto dan tidak mengecek ponselnya sendiri. Pada umumnya tagihan yang tertera di ponsel si pengemudi dan penumpang selalu sama. Setelah si penumpang melihat jumlah tagihan di ponsel Pak Kusyanto, dia segera membayar tunai sebesar angka tersebut. Kemudian setelah si penumpang masuk kedalam rumahnya, barulah dia melihat notifikasi tagihan di ponselnya dan inilah yang membuatnya terkejut karena tagihan yang muncul di ponselnya berbeda dengan yang muncul di ponsel Pak Kusyanto sebelumnya, dengan kata lain yang sudah dibayarkan tunai kepada Pak Kusyanto.

Akibatnya, si penumpang sangat marah dan merasa bahwa Pak Kusyanto telah mencurangi tagihan perjalanannya. Bagaimana mungkin tagihan bisa berbeda di ponsel pengemudi dan penumpang Uber. Terlebih lagi, yang membuat si penumpang tersebut semakin marah karena jumlah uang yang dibayarkan kepada Pak Kusyanto cukup tinggi dan berbeda sangat jauh dengan tagihan yang tertera di ponsel penumpang.

Penumpang tersebut kemudian menelepon Pak Kusyanto dengan nada yang agak kasar dan dia mengancam hendak melaporkan Pak Kusyanto. Kebetulan Pak Kusyanto memang masih berada di dekat rumah si penumpang tersebut dan habis menerima panggilan telepon dari sanak saudaranya. Si penumpang bahkan sempat memaki Pak Kusyanto karena dia mengira Pak Kusyanto menonaktifkan ponselnya. Padahal Pak Kusyanto sebelumnya baru menerima panggilan dari keluarganya. Wajar saja jika panggilan masuk dari si penumpang tidak terjawab dan terdengar nada sibuk. Penumpang tersebut memaki Pak Kusyanto dan menuduh beliau mencurangi tagihan Ubernya. Karena yang tertera di ponselnya berbeda dengan yang muncul di layar Uber Pak Kusyanto. Tagihan yang tertera di ponsel sang penumpang jumlahnya lebih rendah sementara dia sudah membayar dengan jumlah yang lebih tinggi sesuai dengan yang tertera di ponsel Pak Kusyanto. Penumpang tersebut yakin bahwa memang seharusnya tagihan yang harus dibayarkan lebih murah karena dia juga mendapatkan promo potongan harga dari Uber.

Pak Kusyanto sendiri yakin sepertinya ada kesalahpahaman dan beliau menawarkan diri untuk langsung menyelesaikan permasalahan tersebut. Beliau berkata kepada si penumpang bahwa beliau masih berada di sebelah rumah si penumpang tersebut dan bersedia untuk ditemui. Tidak disangka, si penumpang itu keluar dari rumahnya dan memaki-maki Pak Kusyanto dengan sangat kasar di depan umum dan disaksikan oleh orang yang lalu lalang di sekitarnya.

Pak Kusyanto kebingungan karena hal ini dan beliau hanya bisa menyarankan untuk menghubungi customer service saja jika memang ada kesalahan tagihan. Namun bukannya mengikuti saran dari Pak Kusyanto untuk menghubungi customer service, si penumpang tersebut meminta Pak Kusyanto mengembalikan kelebihan uang yang seharusnya menjadi potongan harga untuknya. Dia tetap bersikeras bahwa tagihan di ponselnya lah yang benar.

Pada akhirnya Pak Kusyanto memilih untuk mengalah saja dan mengembalikan sejumlah uang yang diminta oleh si penumpang tersebut. Pak Kusyanto lebih memilih untuk mengalah dan ikhlas ketimbang terus-menerus mendengar makian kasar dari penumpang tersebut. Beliau berujar kepadaku bahwa beliau sangat tersinggung dan masih ingat sekali makian kasar yang dilontarkan kepada beliau ketika itu.

Mendengar cerita beliau aku jadi turut prihatin dan berpikir bahwa tidak sepantasnya penumpang tersebut memaki Pak Kusyanto sekasar itu. Memang ada istilah penumpang adalah raja tetapi hargailah juga supir yang sudah mengantarkan kita sampai ke tempat tujuan.

Dari cerita tersebut, aku bisa mengambil kesimpulan bahwa bisa saja terjadi system error dengan aplikasi Uber ketika itu. Karena aku sendiri pun sering mengalami hal itu dan aku cukup memberi feedback atau laporan kepada customer service Uber saja. Sejauh ini aku selalu mendapat feedback dan penyelesaian masalah yang cepat dari pihak Uber setiap kali ada keluhan.

Kemungkinan lainnya adalah bisa jadi si penumpang tersebut lupa memasukkan kode promo kedalam aplikasi Ubernya sehingga otomatis dia tidak mendapatkan potongan harga. Atau bisa juga sebenarnya kode promo yang dimiliki oleh penumpang tersebut sudah habis terpakai sehingga dia tidak berhak mendapatkan potongan lagi. Biasanya kode promo yang diberikan Uber berlaku untuk beberapa kali perjalanan saja dan setelah itu kita sudah tidak berhak mendapatkan potongan lagi.

Saranku kepada sesama pengguna Uber lainnya, hendaklah menjadi pelanggan yang cerdas dan santun. Adakalanya mungkin kesalahan pada kita yang tidak cermat mengecek validasi kode promo tersebut atau memang bisa jadi ada kesalahan pada systemnya.

Jika memang benar si pengemudi mencurangi angka tagihan tersebut, bagaimana dia bisa melakukannya? Pengemudi tidak memiliki akses atau otoritas untuk mengutak-atik angka tagihan. Angka tagihan tersebut muncul secara otomatis.

Aku sendiri membuktikan ketika aku sudah tiba di tempat tinggalku. Aku meminta Pak Kusyanto untuk segera end-trip supaya kami bisa bersama-sama melihat angka tagihannya. Tidak lama setelah Pak Kusyanto end-trip, muncullah angka tagihanku di layar ponselnya. Dan disana tertera dengan jelas sekali rincian tagihanku. Kebetulan aku juga sedang menggunakan promo potongan harga dan disana tampak jelas berapa jumlah total tagihanku sebelum dan sesudah potongan harga. Jadi, bagaimana Pak Kusyanto bisa mencurangi tagihan semacam ini?

Singkatnya, jika memang kita berhak mendapatkan promo, itu pasti akan secara otomatis dimunculkan di dalam tagihan kita. Dan sebaliknya jika kita tidak berhak mendapatkan promo, maka tagihan yang tertera adalah harga normal tanpa potongan apapun.

Saranku, cerdaslah menjadi customer sebelum kita menyampaikan keluhan kepada si pengemudi terlebih lagi memaki-maki dengan kalimat yang sangat kasar di depan umum. Alangkah malunya jika ternyata kitalah yang salah, bukan si pengemudi tersebut. Dan jika memang ada kesalahan sistem, segera laporkan saja kepada customer service Uber. Sejauh ini, mereka selalu memberikan feedback yang cukup memuaskan dan permasalahan apapun selalu dapat terselesaikan.

Sebelum turun dari mobil, aku sempat berpesan sedikit kepada Pak Kusyanto untuk lebih banyak lagi mempelajari aplikasi Uber karena beliau masih sangat baru dan masih banyak sekali hal-hal yang perlu dipelajarinya supaya pengalaman buruk tersebut tidak terulang lagi. Beliau juga mengucapkan terima kasih kepadaku atas beberapa tips yang aku berikan kepadanya. Akupun tidak lupa mengucapkan terima kasih karena sudah mengantarku sampai ke tempat tujuan dengan selamat.

uber1

 

*picture is taken from Pinterest