The Husband

Uber Logo  UBER

 

 

Thursday Morning, 29th September 2016

Pagi ini rutinitasku sama dengan hari-hari biasanya. Working days, masih belum weekend. Hanya saja aku bangun cukup kesiangan hari ini akibat semalam tidak tidur dengan nyenyak karena ada sesuatu hal yang sangat mengganggu pikiranku. Alhasil karena bangun kesiangan, akupun memutuskan untuk berangkat ke kantor dengan menggunakan Uber saja.

Biasanya kalau aku bangun lebih pagi, aku memilih menggunakan layanan bus Transjakarta. Memang rutenya jadi memutar sangat jauh dan bisa memakan waktu sekitar dua jam sehingga mengharuskanku berangkat jam 6 pagi dari rumah, tetapi biayanya memang sangat murah. Disamping itu, sekarang Pemkot sudah merealisasikan penambahan armada Transjakarta yang cukup banyak. Hal ini membuat waktu tunggu di halte bus jadi tidak terlalu lama seperti dulu. Aku masih ingat, dulu bisa lama sekali untuk menunggu kedatangan bus yang berikutnya. Namun sekarang sudah sangat cepat dan armadanya banyak yang baru. Hal ini sangat menguntungkan sekali bagi para pengguna Transjakarta dan masyarakat yang bermukim di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Tidak hanya itu, separator busway pun sudah mulai banyak yang ditinggikan dan diberlakukan di lebih banyak jalur. Bahkan sekarang di beberapa jalur Transjakarta juga diberi pintu portal dan ada petugas Transjakarta yang berjaga. Petugas tersebut bertugas membuka portal ketika ada bus Transjakarta yang hendak lewat dan diharuskan menutup kembali portal tersebut dengan maksud supaya tidak ada kendaraan lain yang masuk ke jalur tersebut. Di samping itu dalam keadaan lalu lintas padat, sang petugas berkewajiban untuk memberhentikan kendaraan lain dan membuka jalan bagi bus Transjakarta yang hendak lewat.

Sepengetahuanku baru beberapa jalur saja yang diberi portal ini terutama jalur-jalur yang relatif padat. Sebelum adanya pintu portal ini, banyak kendaraan yang bebas keluar masuk jalur Transjakarta dan menyebabkan bus tersebut melaju dengan lambat karena jalurnya yang tersendat dan tidak steril.

Kembali lagi ke cerita Uberku pagi ini, aku berangkat dari rumah sekitar pukul 8 pagi. Pak Sudarto nama driver Uber yang menjemputku pagi ini dengan mengendarai Avanza berwarna silver. Untungnya beliau berada tidak jauh dari kediamanku sehingga beliau bisa tiba dengan cepat.

Pak Sudarto kelihatan sudah cukup tua, rambutnya sudah memutih semua namun aku tidak bisa menebak berapa usianya. Usia terkadang bisa saja salah tebak. Banyak orang yang parasnya terlihat muda sekali namun usianya jauh diatas penampilannya dan juga sebaliknya.

Begitu aku membuka pintu mobil, beliau segera menyapaku dengan sangat ramah. Kemudian aku segera menyebutkan tujuan perjalananku dan rute yang kupilih untuk dilewati. Karena kelelahan akibat kurang tidur semalam, tidak lama setelah masuk kedalam mobil aku menyandarkan kepala dan memejamkan mata. Aku berniat menggunakan waktu perjalanan pagi ini untuk memejamkan mata dan beristirahat saja. Saking kelelahannya aku langsung terlelap dan tanpa sadar sudah hampir sampai ke tempat tujuanku, mungkin sekitar limabelas menit lagi.

Sambil masih memejamkan mata sayup-sayup aku mendengar suara Pak Sudarto seperti sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon genggamnya. Aku mendengar kata-kata “… Ibu gimana kadar gulanya? … Ya sudah nanti kamu belikan insulinnya… Sudah dulu ya bapak tidak enak sedang bawa tamu…”

Sesaat aku menangkap maksud dari sepotong percakapan Pak Sudarto yang tidak sengaja aku dengar tersebut namun aku tidak ingin tahu lebih lanjut karena itu bukan urusan pribadiku. Karena tidak lama lagi aku akan tiba di tempat tujuanku, aku memutuskan untuk bersiap-siap dan menyudahi waktu istirahatku di mobil.

Pak Sudarto sepertinya menyadari kalau aku sudah membuka mata dan mulai bersiap-siap untuk turun. Kemudian Pak Sudarto tiba-tiba berkata, “Ibu, maaf ya tadi anak saya telepon. Saya jadi tidak enak mengganggu ibu sedang istirahat.” Sontak aku terkejut dan aku membalas kalimat beliau, “Oh, tidak apa-apa Pak.” Aku terkejut karena beliau sampai sebegitu tidak enaknya, padahal bagiku sama sekali tidak masalah. Akupun bisa memahami jika itu telepon darurat yang harus segera beliau terima.

Aku memperhatikan, beberapa driver Uber memang sengaja tidak mau angkat telepon ketika mereka sedang membawa penumpang. Namun jika telepon itu terus-menerus berdering, mereka kemudian meminta maaf kepadaku dan meminta izin untuk menerima panggilan tersebut. Sejujurnya aku memang bukan orang yang membenarkan tindakan menerima telepon sambil berkendara, namun jika memang sangat darurat aku bisa memaklumi. Dan aku sangat menghargai sekali para driver yang tidak mengangkat telepon ketika sedang membawa penumpang. Bagiku itu adalah nilai plus untuk mereka.

Dilain waktu aku pernah berkendara dengan driver Uber yang hampir setengah perjalanannya berbicara di telepon dan aku juga sedikit khawatir karena caranya mengemudi agak sedikit oleng. Entah itu karena dia menngemudi sambil menerima telepon, atau memang cara mengemudinya yang kurang baik. Untungnya aku selamat sampai di tujuan dan dengan sangat menyesal aku memberi nilai yang rendah untuk driver tersebut. Kejadian ini aku alami sudah lama sekali. Mungkin sudah berbulan-bulan yang lalu.

Belakangan ini aku memperhatikan kalau Uber sudah memperbarui aplikasinya di fitur penilaian untuk driver. Tidak semata-mata penilaian bintang saja, tetapi juga ada penilaian tambahan lainnya. Penilaian tambahan ini muncul setelah kita memberi penilaian bintang. Penilaian tambahan tersebut dikategorikan menjadi beberapa kriteria diantaranya Arrival Time, Cleanliness, Comfort, Driving, Pickup, Trip Route, Navigation, Music, Car Quality, Professionalism, Service dan Others. Pada umumnya yang ditampilkan hanya lima kriteria saja untuk setiap trip dan sepengetahuanku itu dimunculkan dengan acak untuk masing-masing driver. Ada juga pilihan Others jika kriteria yang kita maksudkan tidak tertera disitu. Kemudian dibawah kriteria tersebut ada lagi tambahan penilaian lainnya berupa “Say Thanks”. “Say Thanks” ini bisa dituangkan dalam bentuk tulisan bebas menurut kita.

Aku bisa menyimpulkan bahwa kriteria penilaian bagi driver yang dirancang oleh Uber itu sudah cukup baik. Penumpang diberi keleluasaan untuk menilai driver sampai detail. Tidak hanya pemberian bintang saja, tetapi masih ada kriteria-kriterianya, ditambah lagi dengan penilaian dalam tulisan bebas. Saranku bagi para pengguna Uber sebaiknya memanfaatkan fitur penilaian ini dengan sebaik-baiknya. Tujuannya adalah untuk memberi apresiasi yang maksimal kepada setiap driver tersebut dan juga untuk memberi masukan yang maksimal jika ada hal yang perlu ditingkatkan.

Jika ada pelayanan driver yang kurang berkenan, kitapun bisa memberi masukan kepada driver tersebut untuk menjadi lebih baik lagi. Karena aku juga sering mendengar cerita dari beberapa driver Uber, jika pelayanan mereka kurang memuaskan, biasanya mereka mendapat teguran dari kantor pusat beberapa hari kemudian. Hal tersebut bisa dipastikan berasal dari data penilaian yang diperoleh dari para pengguna Uber dalam kurun waktu tersebut. Jadi, kriteria penilaian yang disediakan oleh Uber bukan hanya sebagai pelengkap fitur semata, tetapi benar-benar di review dan ditindaklanjuti.

Kembali lagi ke cerita Pak Sudarto tadi. Menyadari aku sudah tidak terlelap lagi, Pak Sudarto mulai membuka percakapan. Kalimat pertama yang beliau lontarkan adalah permohonan maafnya karena terpaksa menerima telepon dari anaknya. Kemudian beliau sedikit bercerita, “Saya tadi sebetulnya ketiduran bu. Saya narik dari semalam, lalu saya kecapekan dan ketiduran di mobil sampai pagi. Terus tadi pas terbangun baru dapat orderan dari ibu.”

Beliau bercerita kalau sebenarnya beliau agak keteteran menjadi driver Uber. Bagi Pak Sudarto agak sulit memenuhi target Uber. Beliau sempat berujar, “Kalau ibu ada lowongan pekerjaan tolong dibantu ya bu. Memang ada kesulitan juga sih karena setiap pagi saya harus cucikan kaki istri saya dulu, kemudian saya suntikan insulin. Tetapi kalau ada pekerjaan kantoran untuk saya, saya mau coba saja.”

Seketika aku membatin dan tidak bisa banyak berkata-kata. Kasihan sekali Pak Sudarto ini. Kalau menangkap dari cerita singkatnya, sepertinya istri beliau mengidap penyakit gula atau diabetes. Setiap pagi beliau harus mencucikan kaki istrinya dan menyuntikan insulin. Beliau juga sempat bercerita kalau beliau tinggal di sebuah kontrakan di wilayah Ciledug. Menurut beliau, harga kontrakan disana masih sangat murah ketimbang di pusat kota. Pak Sudarto juga sempat berujar kalau sehabis mengantarkanku ke tempat tujuan, beliau berencana segera pulang kerumah dulu, yang berarti di wilayah Ciledug dan aku membayangkan jauh sekali jarak yang harus beliau tempuh. Sedangkan tempat tujuanku yang merupakan kantor tempatku bekerja berada di kawasan Jakarta Pusat.

Aku tidak sempat banyak bercakap-cakap dengan Pak Sudarto karena aku sudah tiba di tujuan. Ada perasaan menyesal karena aku terlelap sepanjang perjalanan pagi ini. Mau bagaimana lagi, aku benar-benar sangat kelelahan karena kurang tidur semalam.

Aku meminta Pak Sudarto menepi saja di depan kantorku dan tidak perlu masuk sampai lobby. Sampai disitu Pak Sudarto masih saja berujar dan terus meminta maaf berkali-kali kepadaku mengenai hal tadi, “Ibu terima kasih ya, maaf sekali tadi anak saya telepon jadi mengganggu istirahat ibu.” Aku tidak tahan mendengarnya dan tiba-tiba menjadi sedih rasanya. Batinku mengatakan, ‘Sudahlah Pak, tidak masalah bagiku. Aku malah turut prihatin dengan kondisi istri Bapak.’

Sebelum aku turun, aku mengucapkan banyak terima kasih dan aku mengulurkan sedikit tip untuk beliau. Aku tahu jumlahnya memang sangat sedikit sekali, tetapi aku ikhlas dan aku mendo’akan keselamatan Pak Sudarto dan keluarganya. Beliau sangat berterimakasih sekali akan tip ala kadarnya yang aku ulurkan. Sesaat aku memandangi wajahnya yang tersenyum tulus dengan diliputi perasaan yang sangat beterimakasih. Aku juga menyadari di wajah beliau yang sudah separuh baya itu tampak gurat kelelahan dan ada beban berat yang sedang dipikulnya.

Segera setelah aku turun dari mobil, aku masih diliputi perasaan sedih melihat Pak Sudarto dan mengingat cerita singkatnya. Aku yakin beliau adalah suami dan ayah yang baik. Beliau bekerja membanting tulang dari pagi hingga malam dan tidak sadar kalau beliau sendiri kelelahan. Hal itu aku yakin terpaksa beliau lakukan karena harus membiayai pengobatan istrinya. Dan penyakit yang diderita istrinya itu sudah pasti bukan penyakit yang ringan dan bisa sembuh dalam waktu seketika. Aku bisa membayangkan kalau penyakit tersebut adalah penyakit yang sangat memerlukan perawatan khusus dan biaya yang tidak sedikit. Aku sendiri mungkin belum bisa memberikan banyak bantuan untuk Pak Sudarto. Namun aku berdo’a dan memohon kepada Tuhan dalam hatiku supaya Pak Sudarto dan keluarganya diberi kemudahan, dilancarkan jalannya dan diberi berkah yang berlimpah.

family1

 

*picture is taken from Pinterest