The Doorman of The 5-Star(s)

Uber Logo     UBER

 

Wednesday, 13 July 2016

Ini adalah hari ketiga setelah libur Idhul Fitri, dan suasana di Jakarta masih cukup lengang. Mungkin hal ini dikarenakan masih banyak orang yang belum kembali dari mudik ke luar kota. Malam ini aku memutuskan untuk bertemu dengan sahabatku di kawasan Grand Indonesia. Kami makan malam di sebuah restoran otentik Korea di area West Mall. Tidak terasa saking serunya mengobrol, waktu sudah menunjukkan hampir pukul 22:00 dan kami memutuskan untuk pulang.

Aku menawarkan tumpangan kepada sahabatku dan mengantarkan dia pulang dulu sebelum melanjutkan perjalan kearah rumahku. Aku mengeluarkan ponselku dan membuka aplikasi Uber. Saat itu aku lihat surcharge nya agak tinggi, ada di angka 1.5X. Tetapi karena sahabatku agak tidak enak badan dan aku sendiripun ingin segera pulang, aku putuskan untuk memesan Uber saja dengan tarif yang tinggi tersebut.

Tidak lama kemudian di layar ponselku muncul nama driver yang akan menjemputku. Sedikit ragu ketika aku melihat rating nya, bintang lima. Well, bukankah itu seharusnya sangat bagus? Sejauh pengalamanku rating bintang lima belum tentu bagus. Rating bintang lima bisa saja artinya driver tersebut masih sangat baru. Hal ini masuk akal. Karena sangatlah tidak mungkin Uber memasang rating bintang nol atau bintang satu untuk driver yang baru mulai. Tentu saja para pengguna tidak akan mau menggunakan Uber dengan rating yang serendah itu, pasti persepsinya sudah negatif duluan.

Rating Uber ini sifatnya kumulatif dan merupakan angka rata-rata yang diperoleh driver dari setiap trip. Awalnya si driver memiliki rating bintang lima dan seiring bertambah trip yang dilakukannya, maka rating yang diberikan oleh para penumpang bisa bervariasi. Ada kemungkinan tidak semua penumpang memberikan rating bintang lima karena kepuasan yang dirasakan oleh masing-masing penumpang pun berbeda-beda. Angka tersebut jika dijumlahkan dan dihitung secara kumulatif akan menghasilkan sebuah angka rata-rata. Nilai akhir inilah yang terpampang di setiap profil driver Uber dan inilah yang menentukan ratingnya.

Sedikit tips dariku, driver dengan rating 4.5 – 4.8 rata-rata memiliki kualitas pelayanan yang bagus. Baik dari penjemputannya, cara mengemudinya, kepiawaiannya dalam memilih rute tercepat, keramah-tamahannya serta kebersihan dan kerapihan mobilnya. Aku sangat percaya bahwa rating diberikan bukan tanpa alasan. Driver yang memiliki rating dengan angka tersebut pasti rata-rata mendapatkan penilaian bintang empat atau bintang lima dari customernya dimana hal tersebut sudah menyatakan kepuasan tinggi dari customer. Begitu pula sebaliknya, kami para pengguna Uber pun memiliki rating sendiri. Hanya saja kami tidak bisa melihat berapa rating kami di profil. Aku sendiripun tidak tahu berapa ratingku. Aku hanya berharap aku memiliki rating yang cukup bagus.

Dalam hal ini Uber cukup fair. Driver dinilai dan diberi rating oleh penumpang dan begitu pula sebaliknya, penumpang diberi nilai oleh si driver. Jadi tidak salah jika aku menyimpulkan kalau rating atau penilaian tersebut diberikan bukan tanpa alasan. Rating dengan nilai kecil membuat orang jadi ragu untuk memilih. Baik driver maupun penumpang pun merasakan hal yang sama. Penumpang seringkali ragu ketika melihat rating driver yang rendah dan begitu pula sebaliknya, driver juga akan merasa ragu ketika melihat rating penumpang yang rendah. Saking seringnya menggunakan layanan Uber, aku jadi tahu banyak hal mengenai Uber.

Aku sempat berujar kepada sahabatku, “Bintang lima nih driver nya, pasti ini baru.” Kemudian sahabatku balik bertanya, “Tau darimana masih baru?” Lalu aku menjelaskan padanya mengapa aku bisa menebak kalau driver itu baru.

Sekitar 10 menit kemudian, driver yang akan menjemput kami tiba di lobby West Mall dengan mengendarai Avanza. Pak Muhammad nama driver kami kali ini. Kemudian kami menyebutkan arah tujuan kami setelah kami masuk ke mobil. Sejenak sahabatku mengamati bagian dalam mobil sebelum dia melontarkan pertanyaan kepada Pak Muhammad, “Pak, ini mobilnya masih baru ya?” Pak Muhammad mengiyakan pertanyaan sahabatku tersebut. Dan tidak hanya itu, ternyata ini adalah pertama kalinya dia mengendarai Uber dan kami adalah customer pertamanya. Kontan aku langsung berbisik kepada sahabatku, “Tuh kan, apa aku bilang tadi, dia masih baru.”

Disamping itu, Pak Muhammad sempat berkata kepada kami untuk menunjukkan jalan kepadanya karena dia belum begitu familiar dengan rute jalanan di Jakarta. Pak Muhammad sendiri berdomisili di Depok, jadi wajar saja kalau dia tidak begitu familiar dengan jalanan di Jakarta.

Kemudian sahabatku mulai bertanya-tanya kepada Pak Muhammad mengenai pekerjaan utamanya. Dan dari situlah Pak Muhammad mulai bercerita.

Pak Muhammad ini bekerja di salah satu hotel bintang lima yang letaknya tidak jauh dari Grand Indonesia. Disana dia adalah seorang doorman yang sudah jelas tugasnya berjaga di pintu masuk hotel. Dia baru bekerja di hotel tersebut sekitar satu setengah bulan. Jam kerjanya yang fleksibel tersebut memungkinkan dirinya untuk bekerja sebagai driver Uber. Jika dia mendapat shift malam, maka pekerjaan sebagai driver Uber akan dia jalani di siang hari dan begitu pula sebaliknya. Pak Muhammad mengakui bahwa dia tidak berniat meninggalkan pekerjaannya di hotel dan bekerja full time sebagai driver Uber. Dia sangat menikmati pekerjaannya di hotel dan sudah barang tentu itu adalah pekerjaan utamanya.

Sebelum Pak Muhammad bercerita lebih banyak, dia sudah tiba di kediaman sahabatku di kawasan Jakarta Pusat. Setelah mengantarkan sahabatku, Pak Muhammad melanjutkan perjalanan untuk mengantarku ke kawasan Jakarta Utara.

Sejenak aku memperhatikan Pak Muhammad sepertinya termasuk orang yang cukup pendiam dan tidak banyak bicara kalau tidak ditanya. Namun rasa penasaran akan pekerjaan Pak Muhammad sebagai doorman membuatku ingin bertanya lebih banyak lagi.

Sebelum bekerja di hotel tersebut, Pak Muhammad pernah bekerja di hotel JW Marriott selama satu setengah tahun, di The Sultan Hotel selama dua tahun, dan di The Ritz-Carlton selama kurang lebih satu tahun yang sekaligus merupakan hotel tempat kerja pertamanya. Di ketiga hotel berbintang lima tersebut pun dia bertugas sebagai doorman. Aku sempat bertanya-tanya apakah tidak ada keinginan Pak Muhammad untuk berganti profesi selain sebagai doorman di hotel.

Dia pun bercerita bahwa dia pernah menjadi seorang koki di kapal cargo pada tahun 2010 selama kurang lebih satu tahun. Dia mengakui pekerjaan tersebut agak membosankan karena kebetulan kapal tempat dia bekerja dulu bukan sejenis cruise atau kapal pesiar melainkan hanyalah kapal yang membawa muatan berupa cargo. Sudah barang tentu kapal pesiar memang jauh lebih menarik. Interiornya mewah, suasananya meriah, dan lebih banyak orang untuk diajak berinteraksi. Sama persis seperti suasana di hotel. Disamping itu dia juga kurang menikmati pekerjaan sebagai koki karena menurutnya dia hanya bisa berkutat di satu tempat yang sama, lebih tepatnya di area dapur. Sementara menjadi doorman dan berjaga di pintu masuk hotel memungkinkan dirinya untuk berinteraksi dengan berbagai macam orang dimulai dari tamu-tamu hotel, para petugas hotel lain yang berjaga di area lobby dan resepsionis hotel. Hal tersebutlah yang membuat Pak Muhammad sangat menikmati pekerjaannya sebagai doorman. Meskipun demikian, Pak Muhammad memang sempat mencari kesempatan untuk suatu hari bisa bekerja di kapal pesiar, tetapi baginya saat ini pekerjaan sebagai doorman sudah sangat menyenangkan.

Tidak sampai disitu saja ketertarikanku akan cerita Pak Muhammad. Akupun kagum karena hotel-hotel tempat dia bekerja bukanlah hotel biasa, melainkan hotel berbintang lima di Jakarta yang cukup ternama dan memiliki reputasi bagus. Bahkan dia sempat berujar kalau hotel tempatnya bekerja sekarang sudah empat kali menjadi juara untuk kategori ketertiban dan kebersihan.

Pak Muhammad tidak mengalami kesulitan untuk berpindah dari satu hotel ke hotel lainnya. Setiap wawancara kerja dilewatinya dengan mulus karena dia sudah punya pengalaman di hotel sebelumnya.

Tampaknya Pak Muhammad memang benar-benar tidak tahu jalan karena dia sempat menyasar dan berputar-putar di sekitar jalan Medan Merdeka. Karena aku juga tidak familiar dengan area tersebut, buru-buru aku membuka aplikasi Waze dan memandu Pak Muhammad sebelum dia salah jalan lebih jauh lagi. Aku memperhatikan lagi, selain Pak Muhammad ini cukup pendiam, dia juga bisa dibilang cukup polos. Ketika aku menanyainya beberapa kali mengenai pekerjaannya, dia menjawab dengan nada bicara yang sangat apa adanya dan jujur.

Akhirnya aku tiba di kediamanku sekitar pukul 23:00 setelah Pak Muhammad beberapa kali salah ambil jalan. Diapun meminta maaf kepadaku mengenai hal tersebut. Aku bisa memaklumi karena ini adalah pertama kalinya dia mengendarai Uber dan aku adalah customer pertamanya. Akibat beberapa kali salah jalan, ditambah tarif yang berlaku saat itu adalah 1.5X dari tariff normal, dan juga sempat sedikit memutar karena mengantarkan sahabatku ke kediamannya – maka tidak heran tagihanku malam itu sangat tinggi sekali.

Aku pasrah saja melihatnya dan buatku tidak jadi masalah. Hal seperti ini memang terkadang bisa terjadi. Tidak terlalu merisaukan bagiku karena ada hal lain yang aku dapat dari Uber trip malam ini. Cerita Pak Muhammad sebagai seorang doorman di hotel-hotel berbintang sudah cukup menggantikan tarif tinggi malam ini. Anggap saja ini bonus permulaan bagi Pak Muhammad. Dan aku berharap Pak Muhammad besok-besok lebih familiar dengan rute jalanan di Jakarta. Semoga rating Pak Muhammad bisa meningkat seiring dengan berjalannya waktu dan dengan semakin banyaknya trip yang dia dapatkan. Kalaupun suatu hari rating Pak Muhammad adalah bintang lima, mudah-mudahan itu adalah hasil akumulasi dari penilaian bintang lima yang selalu diberikan oleh para pengguna Uber yang menggunakan jasanya. Tidakkah terdengar sempurna jika rating bintang lima diberikan untuk sang doorman dari hotel berbintang lima? Well, good luck untuk Pak Muhammad.

doorman1

 

*picture is taken from Pinterest