The Chef

Uber Logo  UBER

Uber Stories – Sunday, 26 June 2016

Hari Minggu kali ini aku habiskan waktu soreku bersama beberapa kawanku – Nik, Adel, Ina dan Jeany. Kami memutuskan untuk bertemu di mall Kota Kasablanka karena letaknya berada di tengah-tengah. Yang menarik dari Kota Kasablanka ini selain letaknya yang strategis, mall ini juga bisa dibilang sangat lengkap dan tidak pernah sepi pengunjung. Bahkan di hari Minggu ini mall yang berukuran cukup luas ini saja rasanya penuh sesak dengan pengunjung. Hampir semua toko menggelar potongan harga besar-besaran. Ditambah lagi Hari Raya Idhul Fitri sudah semakin dekat. Rasanya memang tidak salah jika hari Minggu ini aku merasa mall ini lebih ramai dari biasanya. Tidak hanya di dalam mall, bahkan jalanan menuju kearah Kota Kasablanka bisa dibilang luar biasa padat.

Kami bertemu sekitar pukul 3 sore di sebuah restoran yang terletak di area Ground Floor. Sekitar pukul 5 sore, si pemilik restoran bertanya kepada kami mengenai sampai berapa lama kami masih di restoran tersebut karena meja tersebut sudah reserved untuk jam berikutnya.

Kemudian kami memutuskan untuk berpindah tempat dan mencari restoran atau kafé lainnya. Sungguh luar biasa karena kami sudah memutari satu lantai Ground Floor, First Floor dan Lower Ground – semuanya sudah full dan reserved. Tidak terkecuali area foodcourt yang sangat luas sekalipun sudah full dan reserved. Hal ini mungkin tidak akan terjadi seandainya ini bukan bulan puasa. Sepertinya semua orang berbondong-bondong kesini tidak hanya untuk mengejar potongan harga besar-besaran, tetapi juga untuk berbuka puasa bersama.

Akhirnya setelah berputar-putar kami mendapatkan tempat di sebuah kafé kecil yang terletak di area Lower Ground. Agak kurang nyaman memang, karena kami mendapat meja di smoking area dan tempatnya agak pengap. Kami tidak lama disitu, hanya sekitar satu jam setelah memesan minuman dan makanan kecil, lalu kami meninggalkan kafé tersebut. Kemudian kami berpisah dan saling berpamitan sekitar pukul 7 malam, sementara aku memutuskan untuk tetap berkeliling di mall.

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam dan aku memutuskan untuk pulang. Seperti biasa aku mengeluarkan ponselku dan mulai memesan Uber. Agak sulit mendapat Uber malam ini. Mungkin karena jalanan di sekitar Kota Kasablanka masih sangat padat sekali meskipun sudah pukul 8 malam. Bahkan driver yang pertama aku sempat dapatkan tiba-tiba cancel begitu saja. Aku rasa jarak dia cukup jauh dari Kota Kasablanka sehingga tidak memungkinkan untuk menjemput aku dalam waktu singkat.

Kemudian aku search kembali driver yang terdekat. Untungnya tidak lama kemudian aku langsung mendapat driver yang kebetulan sekali sedang mengarah ke Kota Kasablanka dan tidak jauh.

Pak Nirwan nama driver kali ini, dengan bintang 4.6. Tepat seperti perkiraanku, beliau memang tidak jauh dari Kota Kasablanka. Beliau tiba menjemputku sekitar 10 menit kemudian dengan mengendarai Datsun berwarna putih. Beliau menyapaku dengan ramah dan mulai menanyaiku mengenai rute yang akan aku pilih ke jalan pulang. Setelah menimbang-nimbang dan juga meminta saran dari Pak Nirwan, aku memutuskan untuk memilih rute Kampung Melayu.

Kami sempat tersendat di sekitar Kota Kasablanka, sepertinya kepadatan belum berlalu meskipun sudah hampir mendekati pukul 9 malam. Aku rasa sampai akhir minggu depan dan bahkan semakin menjelang Hari Raya, kepadatan di pusat-pusat perbelanjaan akan semakin meningkat.

Di tengah-tengah kemacetan tersebut, Pak Nirwan mulai bercerita banyak hal. Beliau bercerita kalau beliau sudah sangat familiar dengan area Kelapa Gading karena sebelumnya pernah bekerja disana. Aku mulai tertarik dengan ceritanya dan sesekali aku bertanya sambil mendengarkan ceritanya.

Sebelumnya beliau bekerja di sebuah Hotel di kawasan Kelapa Gading dan beliau pun pernah bekerja di sebuah Coffe Shop di Kelapa Gading. Aku spontan menebak kalau Pak Nirwan ini punya background di bidang hospitality. Beliau pun membenarkan tebakanku sambil tertawa. Kemudian didorong oleh rasa penasaran, aku lalu menebak jangan-jangan Pak Nirwan juga pernah menempuh pendidikan di salah satu sekolah pariwisata yang terletak di Bandung. Kenapa aku menebak Bandung? Karena aku tumbuh dan dibesarkan di Bandung oleh orang tuaku. Sudah barang tentu aku tahu ada satu sekolah pariwisata yang cukup ternama di kawasan Bandung Utara.

Ternyata Pak Nirwan bukan mengambil sekolah kepariwisataan di Bandung, melainkan beliau adalah lulusan APJ (Akademi Pariwisata Jakarta). Beliau sudah lulus sejak tahun 90an dan sudah memiliki pengalaman cukup lama di bidang hospitality.

Salah satu keahlian beliau adalah memasak, dan tidak heran jika beliau memang seorang chef.

Pak Nirwan pun bercerita kalau beliau juga pernah bekerja di Kota Kasablanka dan lebih spesifiknya di salah satu foodcourt yang terletak di mall tersebut. Sesaat aku berpikir, kalau Pak Nirwan sempat bekerja di area foodcourt, apakah beliau juga tetap menjadi chef nya? Tetapi area foodcourt itu sangat luas dan banyak sekali tenant disana. Lalu apakah beliau menjadi chef di salah satu tenant tersebut?

Untuk mengusir rasa penasaranku, aku lontarkan saja pertanyaan kepada beliau, “Di sana bapak jadi chef juga atau bagian apa?” Beliau kemudian menjawab rasa ingin tahuku, “Oh, saya disana jadi pihak manajemen nya. Saya bagian tasting. Jadi kalau ada tenant yang mau join di foodcourt itu, saya tes dulu rasa makanan nya ok atau tidak. Kalau ok, baru kami terima.”

Menarik sekali pekerjaan Pak Nirwan dulu. Terdengar mudah tetapi pasti memerlukan perjuangan yang tidak mudah untuk menjadi seorang chef. Aku seketika teringat Chef Farah Quinn. Aku memang tidak pernah mencicipi masakannya Chef Farah, tetapi aku follow akun social medianya. Dia kerapkali membagi cerita mengenai perjalanannya menjadi seorang chef sampai kini dia sudah sukes dan bahkan masakannya bisa dinikmati di salah satu maskapai penerbangan Belanda. Postingan Chef Farah selalu berbau hal-hal positif bahkan bisa dibilang sangat berbobot dan inspiratif. Oleh sebab itu aku suka sekali menyimak postingan di akun social medianya karena akupun jadi ikut termotivasi.

Kembali ke cerita Pak Nirwan, beliau pun sempat berujar kalau beliau pernah jadi chef di Hotel Hyatt. Aku melontarkan pujian kepada beliau dengan kagum akan pengalaman kerjanya yang sudah kurang lebih 25 tahun itu.

Pak Nirwan pun bercerita kalau beliau baru menjadi driver Uber sekitar 6 bulan ini. Awalnya karena beliau sempat ditawari pekerjaan di sebuah bakery & pastry, namun tampaknya beliau tidak cocok. Entah karena pekerjaannya atau karena lingkungannya, aku tidak bertanya lebih lanjut mengenai hal tersebut.

Aku sempat bertanya, “Pak, tidak ingin bekerja lagi di bidang hospitality atau jadi chef lagi?” Beliau menjawab dengan pandangan agak menerawang, “Ya, saya ingin sih. Tetapi belum ada yang cocok lagi. Ini juga saya sambil mencari saja.” Dari cara Pak Nirwan menjawab sepertinya beliau memang masih berharap untuk kembali bekerja di bidang hospitality terlebih lagi pengalamannya sudah mencapai 25 tahun. Tampaknya memang passion beliau ada di bidang tersebut.

Sambil terus mengobrol dengan beliau, tidak terasa aku sudah hampir tiba di tujuan. Sebelumnya aku sempat bertanya, “Bapak pulang kearah mana? Masih mau cari penumpang setelah ini?” Beliau kemudian menjawab, “Saya pulang kearah Cibubur. Setelah ini saya tidak cari penumpang lagi, mau langsung pulang saja.” Aku membatin, wah jauh juga Pak Nirwan dari Cibubur putar-putar Jakarta untuk cari penumpang. Aku mengucapkan banyak terima kasih karena beliau sudah mengantarku sampai tujuan dan melewati kepadatan yang cukup panjang di kawasan Kasablanka. Saya do’akan Pak Nirwan bisa segera mendapat pekerjaan di bidang hospitality lagi. Mungkin kita bisa bertemu lagi di lain waktu ketika Pak Nirwan sudah menjadi Chef lagi di sebuah restoran atau hotel ternama, dimana aku mungkin sedang menyantap masakan buatan Pak Nirwan.

 

chef3

 

*picture taken from Pinterest