Grand Indonesia and the Twisted Driver (Part IV – the End)

Uber Logo     UBER

 

Tuesday, 28 June 2016

 

Back to Grand Indonesia

10 menit setelah aku sampai di rumah, aku membongkar tasku karena hendak mencari sesuatu. Namun aku baru sadar bahwa tas belanjaanku ada yang hilang. Malam itu aku memang berbelanja agak banyak dan itu membuat barang bawaanku lebih banyak dari biasanya. Aku memastikan dan mengecek ulang berkali-kali dan memang benar ada satu tas belanjaan yang tidak ada.

Kemudian aku langsung menelepon Pak Bima dan menanyakan apakah ada tas tertinggal di bangku tengah atau tidak. Saat itu juga Pak Bima segera mengecek bangku tengah dan belakang. Dan menurut Pak Bima tidak ada satupun tas yang tertinggal di dalam mobil. Aku mulai panik dan bingung. Kemudian Pak Bima seketika menawarkan untuk mengantarku kembali ke Grand Indonesia untuk mencari tasku. Tetapi sebelumnya Pak Bima mohon diri dulu karena dia sedang makan di area yang tidak jauh dari tempat tinggalku. Aku mempersilahkan Pak Bima untuk makan dulu dan memintanya meneleponku jika sudah tiba di kediamanku.

Sekitar pukul 23:30 Pak Bima memberitahuku bahwa dia sudah berada di depan kediamanku. Aku segera keluar dan masuk kedalam mobil. Karena aplikasi Uber di ponselku tiba-tiba saja error, aku memutuskan untuk nanti membayar cash saja kepada Pak Bima sejumlah tarifku dari Grand Indonesia ke kediamanku sebelumnya. Pak Bima menyetujui hal tersebut dan mulai mengendarai mobilnya kembali kearah Grand Indonesia.

Aku meminta maaf berkali-kali kepada Pak Bima mengenai hal tersebut. Tetapi Pak Bima sangat tidak keberatan untuk mengantarku kembali ke Grand Indonesia dan bersedia membantu. Di perjalanan aku sambil mengingat-ingat dimana kira-kira aku meninggalkan tas tersebut. Aku ingat sekali dengan jelas bahwa sampai aku menunggu jemputan Uber di area West Mall, sama sekali tidak ada tas yang tertinggal. Aku ingat betul masih memegang semua belanjaanku. Namun samar-samar aku ingat aku sempat melepas sejenak tas belanjaan yang aku tenteng di bahu karena agak lelah. Kemudian aku memang sempat terburu-buru menyeberang ke area East Mall ketika jemputan Uberku datang tadi. Yang aku tidak ingat apakah tas itu tertinggal disana atau aku tenteng kembali dibahuku.

15 menit kemudian aku sudah tiba di area Grand Indonesia dan aku langsung menuju area West Mall tempat dimana aku duduk sambil menunggu Uber tadi. Aku melihat ada seorang security mengenakan seragam berwarna biru gelap sedang berjaga di tengah antara area East dan West Mall. Menangkap ekspresiku yang tampak kebingungan, security tersebut menanyaiku dan menawarkan bantuan. Aku langsung menjawabnya sekaligus menanyakan perihal tasku yang mungkin tertinggal di bangku tunggu West Mall. Kemudian security tersebut meminta bantuan security lain yang kebetulan sedang berpatroli tepat di depan area West Mall. Aku segera mendatangi security tersebut dan menanyakan hal yang sama mengenai tas yang mungkin tertinggal di bangku tunggu. Aku sempat menyapukan pandanganku kearah bangku tunggu West Mall yang sangat jelas sekali disana tidak ada satupun barang tergeletak. Kecewa sekaligus pasrah rasanya mengetahui hal tersebut. Dan kalau memang ta situ hilang, aku sudah mengikhlaskannya.

Security tersebut menyarankan untuk membuat laporan kehilangan di kantor pengelola. Namun sebelum mengantarku ke kantor pengelola, dia sempat mengecek bilik kabinet tempat dimana petugas valet parking biasanya berjaga. Setelah dia membuka dan mengecek bilik tersebut, dia bertanya kepadaku, “Ini yang warna putih bukan tasnya?” Seketika aku mengenali tasku yang berwarna putih tersebut. Sontak aku meraihnya dan berkali-kali mengucapkan terima kasih pada security tersebut. Belakangan aku baru mengetahui, Pak Andika nama security tersebut. Aku sangat berterima kasih sekali kepada Pak Andika karena sudah membantu mencarikan tasku. Aku juga sangat berterima kasih kepada siapapun yang menemukan tas tersebut dan menyimpannya. Aku sangat berterima kasih sekali kepada pihak Grand Indonesia akan hal ini.

Kemudian aku segera menuju kembali ke mobil Pak Bima yang masih menunggu di depan area West Mall. Pak Bima pun ikut senang karena ternyata akhirnya aku menemukan barangku yang hilang. Dia berujar, “Berarti itu masih rejeki milik ibu.”

Malam itu aku tidak henti-hentinya mengucap syukur pada Tuhan dan sangat berterimakasih akan kebaikanNya. Barang tersebut mungkin nilainya tidak seberapa, tetapi yang namanya kehilangan barang memang tidak menyenangkan bagi siapapun.

Kemudian Pak Bima mengantarku kembali sampai ke kediamanku. Aku meminta maaf dan sangat berterimakasih akan bantuannya. Dia menjawabnya dengan sangat ramah dan memintaku untuk tidak perlu sungkan karena dia dengan senang hati membantuku. Lagi-lagi Pak Bima terserang panik mendekati kerumunan kecil di dekat kediamanku dan dia langsung menyerahkan ponselnya kepadaku serta memintaku menyimpannya di dalam tasku. Dan saat mobil melaju mendekati kerumunan kecil tersebut, masih sama, masih ada mobil milik stasiun tv swasta yang tadi kami liat. Akupun kembali tergelak melihat hal tersebut sambil berujar, “Ya ampun Pak, itu masih sama dengan mobil yang kita lihat sebelumnya tadi, bukan razia.” Aku kembali mengulurkan ponsel Pak Bima sambil geleng-geleng kepala.

Aku tiba sekitar pukul 00:30 dan sudah sangat kelelahan. Bukan karena perjalanan bolak-balik yang membuatku kelelahan, tetapi kepanikan karena barang tertinggal tadi lah yang cukup menguras pikiranku.

Malam ini aku benar-benar merasa sangat bersyukur dan juga beruntung. Aku mendapat supir Uber sebaik Pak Bima, kemudian mendengarkan kisah-kisahnya yang rumit, menarik dan cukup menghibur, ditambah lagi ketinggalan barang dan harus kembali ke Grand Indonesia, dan ternyata barang tersebut kembali utuh di tanganku. Menyenangkan, melelahkan dan sekaligus merupakan momen yang harus tetap disyukuri diantara momen-momen lain yang aku lewati setiap harinya.

 

The End