Grand Indonesia and the Twisted Driver (Part III)

Uber Logo    UBER

 

 

Tuesday, 28 June 2016

The Twisted Driver

Pak Bima nama driver kali ini, dan ini bukan nama yang sebenarnya. Dia menjemputku dengan menggunakan mobil Avanza berwarna Putih. Aku langsung menyebutkan arah tujuanku begitu aku masuk kedalam mobil.

Setelah menanyaiku mengenai rute mana yang akan aku pilih, Pak Bima memulai percakapan dengan bercerita mengenai pekerjaannya menjadi driver. Saat ini dia memang menjalani pekerjaan sebagai driver aplikasi transportasi berbasis online. Salah satunya adalah Uber dan disamping itu ada aplikasi lain yang dia jalani juga. Setiap hari dia menjalankan kedua aplikasi tersebut secara bergantian. Misalnya, jika dia menjalankan aplikasi Uber di malam hari, maka pagi dan siang harinya dia akan menjalankan aplikasi lainnya dan begitupun sebaliknya.

Untuk Uber sendiri Pak Bima sudah menjalani selama dua bulan dan untuk aplikasi lainnya baru dijalaninya selama satu bulan. Keduanya masih terhitung baru. Sebelumnya dia bekerja sebagai staf pemasaran perumahan Sentul City selama tiga bulan. Sebenarnya itu bukanlah pekerjaan yang ingin dia tekuni, hanya saja kebetulan teman kakaknya sempat menawarkan pekerjaan tersebut dan dia ingin

sekali-sekali mencoba bidang pemasaran, maka dia ambil pekerjaan tersebut. Sayangnya, memang itu bukan ketertarikannya sehingga dia hanya bertahan tiga bulan saja.

Sebelum pekerjaan tersebut, Pak Bima adalah seorang supir pribadi dari seorang dokter gigi ternama di kawasan Jakarta Utara. Dia bekerja untuk dokter gigi tersebut selama kurang lebih dua tahun. Diapun bercerita bahwa dia sangat senang sekali ketika menjadi supir pribadi bagi dokter gigi tersebut. Dan dari ceritanya, aku bisa menyimpulkan kalau dokter gigi tersebut juga sepertinya senang sekali dia bekerja menjadi supirnya. Dia bercerita bahwa pernah suatu ketika hujan deras mengguyur berhari-hari dan menyebabkan beberapa area tergenang banjir. Kediaman sang dokter tersebut pun tidak luput dari bencana banjir. Sang dokter sempat menghubungi Pak Bima dan meminta bantuannya untuk memindahkan beberapa barang-barang di kediamannya. Kejadian tersebut membuat sang dokter tidak pernah melupakan kebaikan Pak Bima. Bahkan Pak Bima pernah ditawari untuk memasang implan gigi secara cuma-cuma karena kebetulan giginya ada yang bermasalah.

Akupun sempat bertanya apakah pernah terlintas di benak Pak Bima untuk kembali bekerja menjadi supir pribadi untuk dokter gigi tersebut. Jawaban Pak Bima tepat seperti yang aku bayangkan, dia sangat tidak keberatan dan sangat ingin kembali bekerja menjadi supir pribadi dokter tersebut. Namun rupanya dia mengurungkan niat tersebut karena sesuatu hal.

Karena tawaran seorang teman kakaknya untuk bekerja menjadi staf pemasaran perumahanlah yang membuat Pak Bima mengundurkan diri menjadi supir pribadi dokter gigi tersebut. Alasan Pak Bima waktu itu karena dia ingin mencoba pekerjaan di bidang lain yang pada akhirnya tidak cocok untuknya.

Setelah berhenti menjadi staf pemasaran perumahan, Pak Bima pernah memutuskan kembali menjadi supir pribadi dokter gigi tersebut dan disambut dengan tangan terbuka oleh beliau. Namun supir-supir lainnya tampak tidak senang dengan kehadiran Pak Bima kembali. Mereka berpikir kok gampang sekali keluar masuk seperti itu dan masih diterima. Hal ini membuat Pak Bima sangat tidak nyaman dan akhirnya dia memutuskan untuk berhenti saja menjadi supir pribadi sang dokter tersebut. Meskipun dengan berat hati, sang dokter mengabulkan permohonan Pak Bima untuk mengundurkan diri menjadi supir pribadinya.

Tidak sampai disitu pengalaman Pak Bima menjadi supir pribadi. Dilain waktu, Pak Bima pernah menjadi supir pribadi untuk seorang ekspatriat berkewarganegaraan India. Suatu hari Pak Bima diminta untuk menjemput istri ekspatriat tersebut yang juga merupakan warga negara India. Pak Bima diminta menjemput di sebuah pasar di kawasan Jakarta Utara. Setibanya di tempat tujuan, Pak Bima memarkir mobil di sebuah mall kecil yang tidak jauh dari pasar tersebut. Kemudian Pak Bima turun dari mobil dan berjalan kedalam pasar menemui wanita India tersebut. Sesampainya disana, wanita tersebut bertanya karena dia tidak melihat mobilnya. Pak Bima menjelaskan bahwa dia sengaja memarkir mobilnya di dekat mall dan berjalan ke pasar dengan asumsi siapa tahu wanita tersebut perlu bantuan untuk membawa barang belanjaan. Di samping itu Pak Bima juga mengikuti instruksi yang dikirimkan kepadanya melalui SMS.

Namun Pak Bima sangat terkejut karena tiba-tiba wanita tersebut malah memaki-maki Pak Bima. Wanita tersebut kesal karena Pak Bima malah memarkir mobil nya jauh dari pasar dan berjalan kedalam sana. Pak bima kontan segera membela diri sambil menunjukkan SMS yang dikirimkan kepadanya. Tetapi wanita tersebut tidak mau tahu bahkan tidak mengakui bahwa dirinya yang mengirimkan pesan singkat tersebut dan dia terus memaki Pak Bima dengan makian kasar.

Akhirnya mereka berjalan ke tempat Pak Bima memarkir mobil dan memulai perjalanan pulang. Di tengah jalan Pak Bima sempat salah jalan dan wanita tersebut kembali mencecar dan memaki Pak Bima dengan kasar. Karena kesal dan tidak tahan, Pak Bima menghentikan mobil kemudian memberikan kunci mobil kepada wanita tersebut. Pak Bima langsung mengundurkan diri saat itu juga dan dia meninggalkan wanita tersebut di tengah jalan di dalam mobilnya sendiri. Pak Bima lalu berlari dan tidak kembali lagi. Dia sempat mendengar wanita tersebut berteriak panik dan memanggil-manggilnya untuk kembali tetapi Pak Bima tidak perduli dan terus berlari.

Singkat cerita, suami sang wanita tersebut kemudian menelepon Pak Bima dan menanyakan perihal peristiwa tersebut. Beliau bertanya mengapa Pak Bima meninggalkan istrinya begitu saja di tengah jalan. Kemudian Pak Bima menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada majikannya tersebut. Di lain waktu majikan India nya tersebut sempat membujuk Pak Bima untuk kembali bekerja untuknya, bahkan beliau tawarkan sepeda motor untuk Pak Bima. Tetapi Pak Bima tetap menolak dan tidak mau kembali.

Setelah mengundurkan diri menjadi supir pribadi sang India tersebut, Pak Bima kembali menganggur. Dan kebetulan ada orang lain yang kembali menawarkan pekerjaan sebagai supir pribadi. Kali ini yang menawarkan tidak lain adalah seorang bos di sebuah perkantoran yang letaknya berseberangan dari rumah majikan India sebelumnya. Pak Bima sempat merasa tak enak hati karena hal itu, namun dorongan kebutuhan untuk menafkahi anak istrinya jauh lebih besar sehingga Pak Bima menerima tawaran tersebut.

Pak Bima kemudian mulai bekerja kembali menjadi supir pribadi. Namun lagi-lagi Pak Bima mengalami perlakuan yang kurang menyenangkan di kantor tersebut. Suatu ketika sang resepsionis meminta Pak Bima mengangkat beberapa barang-barang di kantor tersebut. Awalnya Pak Bima menolak karena dia yakin itu tidak ada dalam job description nya. Dia yakin bahwa dia hanya berkewajiban melakukan tugas sebagai supir saja. Namun sang resepsionis bersikeras bahwa perintah tersebut datang dari bosnya. Mendengar nama bosnya disebut, Pak Bima menyanggupi untuk mengangkat barang-barang tersebut.

Pak Bima cukup kelelahan dan berkeringat setelah selesai mengangkat barang-barang tersebut. Tidak lama berselang, Pak Bima harus kembali mengantar bosnya pergi ke suatu tempat. Ketika masuk kedalam mobil, Pak Bima tampak kelelahan dan berkeringat. Kemudian sang bos bertanya mengapa Pak Bima tampak kelelahan seperti itu. Kemudian Pak Bima bercerita bahwa beliau baru saja selesai mengangkat-angkat barang sesuai dengan suruhan bos. Kemudian bosnya terkejut dan berkata bahwa beliau tidak pernah menyuruh Pak Bima untuk mengangkat-angkat barang.

Saat itulah Pak Bima baru sadar kalau sang resepsionis sudah membohongi dirinya. Pak Bima merasa kesal dengan sang resepsionis tersebut sekaligus merasa tidak enak dengan bosnya. Pak Bima merasa sangat tidak nyaman karena dia tampak kelelahan dan berkeringat sehingga dia khawatir membuat bosnya tidak nyaman. Kejadian tersebut akhirnya membuat Pak Bima merasa tidak nyaman bekerja disana dikarenakan perlakuan sang resepsionis kepadanya. Dan akhirnya Pak Bima memutuskan untuk mengundurkan diri dari sana.

Seperti yang sudah aku ceritakan di awal, saat ini Pak Bima sudah menjadi supir Uber selama kurang lebih dua bulan. Kali ini bosnya adalah pasangan suami istri yang berkediaman di wilayah timur Jakarta. Kebetulan sang suami bekerja di wilayah Jakarta Barat sehingga beliau pun tinggal di wilayah Jakarta dan sang istri tetap tinggal di timur Jakarta bersama dengan anaknya yang masih bersekolah di sekolah dasar.

Kali ini cerita yang dialami Pak Bima bisa dibilang lebih rumit daripada yang sebelumnya. Tidak disangka dan tidak pernah dibayangkan sebelumnya bahwa ternyata istri bosnya menaruh hati kepada Pak Bima. Kerapkali wanita tersebut meminta Pak Bima mengantarnya pergi kemana-mana. Pak Bima sudah menolak berkali-kali karena Pak Bima harus mencari orderan demi mencapai target yang sudah ditentukan oleh Uber. Namun wanita tersebut tidak henti-hentinya menghubungi Pak Bima dan memintanya untuk menjemput dan mengantarnya sesuai dengan keinginannya. Terkadang Pak Bima mau tidak mau menuruti kemauan wanita tersebut untuk mengantarnya kemana-mana dan wanita tersebut bersedia menomboki jumlah setoran Pak Bima yang hilang karena harus mengantarnya pergi. Tidak hanya itu, wanita itupun seringkali menghubungi Pak Bima ketika Pak Bima sedang mengangkut penumpang dan tidak akan berhenti sampai Pak Bima mengangkat teleponnya.

Hal itupun dialami ketika Pak Bima sedang mengantarkanku pulang dari Grand Indonesia. Aku menyadari bahwa ponsel Pak Bima berdering terus-terusan tetapi sengaja tidak diangkatnya. Kemudian Pak Bima berseloroh, “Tuh kan, dia sudah telepon lagi.” Lalu aku iseng bertanya, “Biasanya kalau menelepon terus-terusan seperti itu dia ada keperluan apa Pak?” Sambil menghela nafas dia menjawab, “Ah, ya begitu saja. Biasanya hanya ingin mengobrol. Ya obrolannya seperti anak abege.” Kontan aku tergelak mendengar jawaban Pak Bima. Di satu sisi kisah Pak Bima ini rumit, tetapi jika dipandang dari sisi lain, kisahnya bisa dibilang cukup menggelikan.

Wanita tersebut tampaknya memang kesepian karena tinggal terpisah dengan suaminya. Menurut Pak Bima sendiri suaminya memang jarang pulang meskipun jaraknya tidak terlalu jauh. Dan hal ini lagi-lagi membuat Pak Bima sangat tidak nyaman. Bagaimana mungkin, Pak Bima sangat khawatir jika suami si wanita tersebut mengetahui hal ini. Pak Bima sendiri sudah berkali-kali menolak rayuan wanita tersebut karena Pak Bima sendiri juga sudah beristri dan mempunyai anak. Pak Bima mengakui bahwa wanita tersebut memang cantik parasnya, tetapi Pak Bima pun paham bahwa hal tersebut bukanlah tindakan yang benar dan dia tidak mau terjerumus kedalam masalah yang lebih rumit lagi.

Bahkan Pak Bima sempat bercerita kalau wanita tersebut pernah sengaja mendatangi rumahnya dengan alasan pekerjaan dimana menurut Pak Bima sangat tidak masuk akal. Disana wanita tersebut pun sempat bertemu dengan istri Pak Bima. Sudah barang tentu istri Pak Bima menyimpan curiga terhadap wanita itu. Dan Pak Bima sendiri tidak membohongi istrinya. Dia menceritakan seluruh kejadiannya dan berkata jujur kepada istrinya. Marahlah sang istri ketika mendengar cerita tersebut. Pak Bima tahu bahwa memang serba salah baik cerita maupun tidak kepada istrinya. Namun bagi dia kejujuran masih lebih baik daripada dia harus menutup-nutupi hal itu dari istrinya.

Karena kerumitan ini pulalah Pak Bima sudah mempertimbangkan untuk lebih baik mengundurkan diri saja menjadi supir Uber untuk suami istri tersebut. Pak Bima sudah merencanakan akan bekerja untuk seorang kawannya yang menawarkan menjadi supir Uber lagi. Kawan tersebut kebetulan memiliki sebuah mobil yang tidak dipakai dan lebih baik jika dioperasikan sebagai jemputan Uber saja dan mendatangkan income.

Tidak terasa sambil mendengarkan Pak Bima dengan kisah-kisahnya yang menarik dan rumit, aku hampir sampai ke tempat tujuanku dan waktu sudah menunjukkan pukul 23:00. Ada hal menarik dan cukup menggelikan yang terjadi tidak jauh dari tempat kediamanku. Dari kejauhan kami melihat jalanan di dekat situ agak ramai dan ada beberapa mobil patroli polisi yang sedang diparkir. Pak Bima tidak yakin ada apa disana tetapi dia tampak panik dan meraih ponselnya. Kemudian dia menyerahkan ponselnya kepadaku sambil berujar, “Bu, sepertinya di depan ada razia. Tolong simpan hp saya didalam tas ibu. Nanti kalau ditanya bilang saya supir pribadi ibu ya.” Dengan kebingungan aku menerima ponsel Pak Bima dan memasukkannya kedalam tasku. Kemudian setelah kami semakin mendekati kerumunan tersebut, kami melihat ada mobil milik sebuah stasiun tv swasta yang sedang diparkir disitu. Lalu aku berujar, “Oh, itu sepertinya sedang ada syuting pak. Bapak ini bikin saya kaget saja.” Kemudian aku mengembalikan ponsel milik Pak Bima sambil tertawa geli. Pak Bima sendiri pun menertawakan dirinya sendiri karena kepanikannya tadi.

 (to be continued)